Thursday, July 7, 2011
Saturday, May 21, 2011
World Migratory Bird Day 2011
“Refleksi pengelolaan pariwisata demi perlindungan terhadap habitat burung di Pulau Bali”
Word Migratory Bird Day (WMBD) merupakan kampanye peningkatan kesadaran tahunan yang menyoroti perlunya perlindungan burung migran dan habitatnya. Kegiatan ini dimulai tahun 2006. Pelaksanaanya di lakukan setiap akhir pekan kedua setiap bulan Mei. Banyak cara yang dilakukan untuk memperingati hari migrasi burung sedunia. Diantaranya adalah : festival burung, program pendidikan/ pelatihan serta pengamatan burung.
Setiap tahun, WMBD terfokus pada tema yang berbeda. Tahun 2011 ini tema yang diusung adalah “Perubahan penggunaan lahan dari penglihatan mata burung”.
Kokokan Birdwatching Club Bali baru tahun 2011 ini bergabung dengan WMBD, meskipun kegiatan pengamatan burung (termasuk burung migran) rutin dilaksanakan.
Kegiatan yang dilakukan dalam peringatan WMBD ini fokus pada pengamatan burung di Pulau Serangan. Peserta kegiatan adalah Anggota Kokokan-Bali dan BKSDA Bali (Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali).
2. Permasalahan Lingkungan Hidup di Bali
Bali hari ini menghadapi masalah lingkungan hidup yang sangat berat dan rumit sebagai dampak negatif dari perkembangan pariwisata yang cukup pesat, di samping kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat setempat terhadap kelestarian lingkungan.
Perusakan dan pencemaran lingkungan yang terjadi mulai dari hulu sampai ke hilir menjadikan kompleknya masalah lingkungan hidup di Bali ini.
Sunday, March 27, 2011
MENGAMATI ARUS BALIK RAPTOR MIGRAN DARI MASJID DI UJUNG TIMUR PULAU BALI
Akhirnya pada hari yang telah disepakati bersama, pak Dono mengundang teman-teman untuk datang pada saat bulan purnama Maret 2011. Lokasinya di daerah Seraya-Karangasem.
Kitapun menyebarkan undangan pengamatan bersama lewat SMS dan FB. Beberapa teman tertarik untuk ikutan, dan ada juga yang tertarik untuk ikut namun tidak punya waktu untuk ikut....next time lah
Lensaku dan Lensamu Berbeda
Monday, December 13, 2010
Para “Petani” huTan (PPT)
Barangkali kita akan berfikir dua atau bahkan berkali-kali jika mau menanam Juwet (syzygium cumini), Paitan (Titonia sp) sejenis tanaman perdu yang bukan main pait rasanya, Kerasi (Lamtana camara) raja belukar dataran rendah yang sampai saat ini belum layak kita konsumsi bahkan sekepepet apapun situasinya atau Ciplukan (?) tumbuhan merambat dengan buah sebesar kelereng dengan rasanya yang manis menjadi tanaman pokok di ladang kita. Lantas siapa penebarnya? Wajar mereka adalah sekian dari tumbuhan yang terpinggirkan karena alasan ekonomis. Belum pernah terdengar kisah sukses seorang petani dengan sengaja berkebun juwet, paitan, ciplukan, kalau kerasi sudah ada gak ya...? Mungkin taman, itupun tak lebih hanya sebagai penghias restoran, villa, hotel atau hunian elite lainnya.
Friday, November 19, 2010
JERITAN ALAS KLOTHOK
Oleh: Andry X-san
Saat itu mendung masih menggelayuti langit kota ini, kendati matahari mulai muncul dan menghapus sisa-sisa gerimis yang membuat hari yang (semestinya) cerah menjadi sedikit suram.
“Hai, kamu yang di sana.”
“Iya, ini untuk kamu….!!!”
Maaf karena harus seperti ini…
Saya sudah kehabisan energi dan upaya untuk mengomunikasikan ini denganmu. Jadi, jangan salahkan kalau saya menggunakan cara ini demi ‘berbicara’ kepadamu. Saya tak peduli, bahkan jika kamu tak pernah membaca tulisan ini – yang penting saya sudah menyampaikannya, meski ini jalan terakhir yang ingin saya tempuh.
Kenapa saya memilih cara ini? Karena saya masih ingin hidup seger-waras. Saya belum ingin kehilangan akal sehat, alias jadi edan.
Maafkan saya…
Saya lelah. Hidup dalam pengharapanmu, hidup dalam mimpi-mimpimu. Setelah sekian lama, baru saya sadar, saya memiliki impian saya sendiri. Yang ingin saya kejar. Yang juga ingin saya raih. Saya sudah terlampau penat hidup dalam ekspektasi dan impian orang lain, meski orang itu kamu yang katanya “Khalifah” pengayom bumi.
Sama seperti kamu, saya juga memiliki impian yang ingin saya capai. Saya tak lagi peduli apakah saya akan aman di luar sana, apakah saya akan bahagia, apakah saya akan berhasil, atau jatuh terpuruk seperti argumenmu selama ini. Saya hanya ingin hidup bebas, dan saya akan menjalani keputusan ini lengkap dengan segala resiko dan konsekuensinya.
Mimpi-mimpi ini harus tumbuh. Terlalu lama saya menyimpannya sendiri. Terlalu lama saya membiarkannya tertimbun, terabaikan. Mimpi-mimpi ini layak dibiarkan bertunas, secara alamiah, sebagaimana mestinya. Dan sebagaimana kehidupan terus bergulir, hati ini harus terus mengalir, karena ia cair. Ia tak dapat dibekap dalam sebuah sangkar sempit. Kecuali kamu ingin saya mati perlahan-lahan di dalamnya. Dan percayalah, saya masih ingin hidup.
Saya tak meminta banyak. Tolong biarkan saya ‘hidup’. Hanya itu…
Hidup lepas…, layaknya kepak sayapku yang ingin terbang bebas dan dendangkan kicauanku saat hujan atau pun panas.
Hidup seutuhnya..., seperti ujung rantingku yang selalu menantang matahari dan akarku yang jauh menghujam pusaran bumi.
Hidup bahagia…, bersama kerabatku dan tak lagi kalian buru untuk sekedar menjadi bahan pelengkap koleksimu.
Hidup aman…, di hutan dengan anak-cucuku yang lucu, bukan di taman bermain tempatmu melampiaskan obsesi dan kegilaanmu.
Jadi tolong biarkan saya menjadi diri sendiri….
Jika menerima saya apa adanya terlalu sukar bagimu, maka saya tak meminta untuk diterima. Lepaskan saya. Biarkan saya terbang. Biarkan saya berpetualang. Karena saya bukan milikmu. Saya bukan milik siapapun. Jangan cegah saya dengan cara apapun, dengan dalil apapun, dengan alasan apapun. Biarkan saya bersua dengan separuh kerabat saya yang telah lama terkungkung.
Tolong biarkan saya hidup. Itu saja….
Salam penuh cinta,
-------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------
“Dan di manakah sejarah ini memiliki tempat bagi anak-anakmu dalam kehidupan? Jika anak-anakmu berdiri memandang tanah menghampar, mereka membayangkan akan mendirikan rumah, garasi dan kolam renang. Jika di depan matanya tegak sebatang pohon, lalu mereka berpikir untuk menebangnya. Anak-anakmu tidak dididik untuk menanam dan menumbuhkan, melainkan untuk menguasai dan duduk di singgasana.” (Emha Ainun Nadjib).
--------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------

