Friday, August 14, 2009

Burung-burung yang memanfaatkan “lahan konflik” di Pulau Serangan, Bali

oleh: robithotul huda

Pulau Serangan merupakan pulau kecil yang dipisahkan oleh selat kecil di Pulau Bali. Namun sejak beberapa tahun lalu pulau ini dihubungkan oleh jembatan antar pulau. Bahkan bukan hanya jembatan saja, namun pulau serangan juga telah di perluas menjadi tiga kali lipat dari aslinya. Yang semula sekitar 112 hektar menjadi 481 hektar.

Secara administratif, pulau berpenduduk sekitar 3.821 jiwa (732 keluarga) ini terletak di Kecamatan Denpasar Selatan, Kotamadya Denpasar, Propinsi Bali. Desa Serangan terdiri dari enam banjar dan satu kampung, yaitu Banjar Ponjok, Kaja, Tengah, Kawan, Peken, Dukuh, dan Kampung Bugis meski berada di Pulau Bali, Pulau serangan tidak hanya di huni oleh pemeluk agama Hindu, namun ada juga yang beragama Islam dan kebanyakan orang Bugis yang telah menetap di Pulau Bali sejak abad ke-17an.

Masyarakat pulau ini hampir 85 % awalnya bekerja sebagai petani dan nelayan. Namun setelah adanya reklamasi sekitar tahun 90-an oleh PT BTID (Bali Turtle Island Developmend), kini masyarakatnya lebih banyak bergantung pada industri pariwisata yang telah merata di Bali.

Pembangunan oleh PT BTID di pulau Serangan sebenarnya menjadi polemik (konflik) di masyarakat. Banyak kalangan yang tidak setuju dengan adanya mega proyek tersebut meskipun PT BTID telah mengantongi ijin AMDAL dari pemerintah, dengan berbagai pertimbangan antaralain; perusakan lingkungan, dampak social budaya dan ekonomi namun ada juga yang menyetujinya hingga akhirnya mega proyek ini berjalan dari tahun 90-an namun terhenti akibat adanya krisis moneter sekitar tahun 1998. meski berbagi upaya telah dilakukan namun proyek ini tetap tidak berjalan dan hingga kini “lahan konflik” ini kosong.

Keanekaraagaman jenis burung yang ditemukan di Pulau Serangan

Kawasan hutan mangrove yang merupakan bagian dari proyek PT BTID yang terbengkelai di Pulau Serangan menjadi nilai tersendiri bagi teman-teman pecinta pengamatan burung di alam. Hal ini dikarenakan lokasi tersebut di huni oleh berbagai jenis burung, baik burung air maupun darat. Disana juga sering diadakan lomba pengamatan burung oleh perguruan tinggi Negri di Bali.

Beberapa kali aku dan kawan-kawan melakukan pengamatan disana. Rasanya tak pernah bosan-bosan untuk kembali lagi. Meskipun panas mentari dan kencangnya angin pantai membuat kering kulit kami. Adapun jenis burung yang ditemukan dan teridentifikasi dari tanggal 25 Mei hingga 7 Juni 2009 (4 kali pengamatan) sebanyak 107 jenis, dan paling banyak merupakan keluarga burung air, kurang lebih 66 jenis burung perancah dari suku Charadriidae (Trulek dan Cerek), suku Scolopacidae (Trinil-trinilan) dan suku Ardeidae (Cangak). Catatan data burung ini belum semuanya karena dari beberapa catatan terdahulu kami belum berhasil menemukannya lagi dalam 4 kali pengamatan terakhir ini.....


Catatan hasil pengamatan (daftar jenis) burung di Pulau Serangan secara lengkap adalah:

  1. Tekukur Streptopelia chinensis Spotted-Dove
  2. Merbah Cerucuk Pygnonotus goiavier Yellow-vented Bulbul
  3. Cucak kutilang Pygnonotus aurigaster Sooty-headed Bulbul
  4. Bentet kelabu Lanius schach Long-tailed Shrike
  5. Punai gading Treron vernans Pink-necked Green Pigeon
  6. Uncal kouran Macropygia ruficeps Little Cuckoo-Dove
  7. Dederuk jawa Streptopelia bitorquata Island Collared-Dove
  8. Srigunting kelabu Dicrurus leucophaeus Ashy Drongo
  9. Srigunting hitam Dicrurus macrocercus Black Drongo
  10. Kipasan belang Rhipidura javanica Pied Fantail
  11. Sikatan belang Ficedula westermanni Little Pied Flycatcher
  12. Kerak kerbau Acsridotheres javanicus Javan Myna
  13. Jinjing batu Hemipus hirundinaceus Black-winged Flycactcher-shrike
  14. Kicuit kerbau Motacilla flava Yellow Wagtail
  15. Gelatik-batu kelabu Parus major Great Tit
  16. Manyar jambul Ploceus manyar Streaked Weaver
  17. Bondol jawa Lonchura leucogastroides Javan Munia
  18. Bondol haji Lonchura maja White-headed Munia
  19. Bondol peking Lonchura punctulata Scaly-breasted Munia
  20. Gereja erasia Passer montanus Eurasian tree sparrow
  21. Prenjak jawa Prinia familiaris Bar-winged Prinia
  22. Cinenen jawa Orthotomus sepium Ashy Tailorbird
  23. Cici padi Cisticola juncidis Zitting Cisticola
  24. Kacamata biasa Zosterops palpebrosus Oriental White-eye
  25. Cabai jawa Dicaeum trochileum Scarlet-headed Flowerpecker
  26. Burung madu sriganti Nectarinia jugularis Olive-backed Sunbird
  27. Remetuk laut Gerygena sulphurea Golden-bellied Gerygone
  28. Cipoh kacat Aegithia tiphia Common Lora
  29. Cikrak daun Phylloscopus trivirgatus Mountain leaf-warbler
  30. Sepah hutan Pericrocotus flammeus Scarlet Miniver
  31. Gemak tegalan Turnix sylvatica Small Buttonquail
  32. Gemak loreng Turnix suscitator Barred Buntonquail
  33. Wiwik lurik Cacomantis sonneratii Banded Bay Cuckoo
  34. Gagak hutan Corvus enca Slender-billed crow
  35. Layang-layang api Hirundo rustica Barn Swallow
  36. Layang-layang batu Hirundo tahitica Passific Swallow
  37. Walet sarang hitam Collocalia maxima Black-nest Swiftlet
  38. Kapinis laut Apus pacificus Fork-tailed swift
  39. Kapinis rumah Apus affinis Little Swift
  40. Walet linchi Collocalia esculanta linchi Cave-swiftlet
  41. Kirik-kirik australia Merops ornatus Rainbow Bee-eater
  42. Kareo padi Amaurornis phoenicurus White-breasted Waterhen
  43. Tikusan merah Porzana fusca Ruddy-brested Crake
  44. Raja udang biru Alcedo coerulescens Blue kingfisher
  45. Cekakak sungai Todhiramphus chloris Collared kingfisher
  46. Itik benjut Anas gibberifrons Sunda Teal
  47. Pecuk padi belang Phalacrocorax melanoleucos Little pied cormorant
  48. Pecuk padi hitam Phalacrocorax sulcirostris Little Black Cormorant
  49. Blekok sawah Ardeola speciosa Javan Pond-heron
  50. Kowak malam kelabu Nycticorax nycticorax Black –crowned Night-heron
  51. Kowak malam merah Nycticorax caledonicus Rufous Night-heron
  52. Kuntul karang Egretta sacra Pacific Reef-egret
  53. Kuntul kecil Egretta garzetta Little Egret
  54. Kuntul besar Egretta alba Great Egret
  55. Kuntul perak Egretta intermedia Intermediate Egret
  56. Kuntul cina Egretta eulophotes Chinese Egret
  57. Kuntul kerbau Bulbulus ibis Cattle Egret
  58. Cangak abu Ardea cinerea Grey Heron
  59. Cangak merah Asdea purpurea Purple Heron
  60. Trinil pantai Tringa hypoleucos Common Sandpiper
  61. Trinil semak Tringa glareola Wood Sandpiper
  62. Trinil hijau Tringa ochropus Green Sandpiper
  63. Trinil kaki merah Tringa totanus Common Redshank
  64. Trinil kaki hijau Tringa nebularia Common greenshank
  65. Trinil bedaran Tringa cinereus Terek Sandpiper
  66. Trinil lumpur asia Limnodromus semipalmatus Asian Dowitcher
  67. Trinil rawa Tringa stagnatilis Marsh Sandpiper
  68. Trinil ekor kelabu Tringa brevipes Grey-tailed Tattler
  69. Trinil pembalik batu Arenaria interpres Ruddy Turnstone
  70. Trinil rumbai Philomachus pugnax Ruff
  71. Wili-wili besar Burhinus giganteus Thick-knee, Beach
  72. Kokokan laut Butorides striatus Striated Heron
  73. Cerek besar Pluvialis squatarola Grey Plover
  74. Cerek kalung kecil Charadrius dubius Little Ringed Plover
  75. Cerek melayu Charadrius peronii Malaysian Plover
  76. Cerek paruh panjang Charadrius placidus Long-billed Plover
  77. Cerek pasir besar Cheredrius leschenaultii Greater Sand-plover
  78. Cerek asia Charadius veredus Asian Plover
  79. Cerek pasir mongolia Charadrius mongolus Mongolian Plover
  80. Cerek Cerek topi merah Charadrius ruficapillus Red-capped Plover
  81. Cerek jawa Charadrius javanicus Javan Plover
  82. Cerek tilil Charadrius ruficapillus Kentish Plover
  83. Cerek krenyut Pluvialis fulva Pacific Golden-plover
  84. Berkik rawa Gallinago megala Swinhoe’s Snipe
  85. Gagang bayam timur Himantopus leucochepalus White-headed Stilt
  86. Camar kepala hitam Larus ridibundus Common Black-headed Gull
  87. Dara laut biasa Sterna hirundo Common Tern
  88. Dara laut Tiram Sterna nilocita Gull-billed Tern
  89. Dara laut Jambon Sterna dougallii Roseate Tern
  90. Dara laut kecil Sterna albifrons Little Tern
  91. Dara laut putih Gygis alba Common White Tern
  92. Dara laut jambul Sterna bergii Great crested-Tern
  93. Dara laut benggala Sterna bengalensis Lesser Crested-Tern
  94. Dara laut kumis Chlidonias hybridus Whiskered Tern
  95. Gajahan Besar Numenius arquata Eurasian Curlew
  96. Gajahan penggala Numenius phoeapus Whimbrel
  97. Gajahan Timur Numenius madagascariensis Far-eastern Curlew
  98. Gajahan kecil Numenius minutus Little Curlew
  99. Biru laut ekor Blorok Limosa lappanica Bar-Tailet Godwit
  100. Biru laut ekor hitam Limosa limosa Black-tailed Godwit
  101. Kedidi merah Calidris canutus Red Knot
  102. Kedidi besar Calidris tenuirostris Great Knot
  103. Kedidi leher merah Calidris ruficollis Rufous-necked Stint
  104. Kedidi golgol Calidris ferruginea Curlew Sanpiper
  105. Kedidi putih Calidris alba Sanderling
  106. Kedidi jari-panjang Calidris subminuta Long-toed Stint
  107. Kedidi ekor-tajam Calidris acuminata Sharp-tailed Sandpiper

(kompilasi data oleh: hari agus, m hambali, moch saifudin, robithotul huda)


Tuesday, August 4, 2009

KEANEKARAGAMAN BURUNGDI HUTAN LINDUNG TAMAN HUTAN RAYA RADEN SOERYO, PROPINSI JAWA TIMUR

oleh: oni purwoko basuki

Ini adalah skripsi saya tahun 2003 kemaren yang data-datanya diambil tahun 2002 di kawasan hutan lindung Tahura R Soeryo, Jawa Timur. Mungkin ini sudah terlalu lama dan datanya mungkin sudah banyak berubah dan tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang ini. Namun bisalah untuk dipakai bahan bacaan, daripada tidak bermanfaat dan hilang begitu saja.
Terima kasih untuk kawan-kawan lain yang mengijinkan kami untuk meng upload hasil skripsi, penelitian maupun coretan-coretan lainnya di blog ini, nanti secara bertahap akan saya upload satu persatu, Thanks bro..................smoga bermanfaat bagi kita semua.

INTISARI

Telah dilakukan penelitian mengenai keanekaragaman jenis burung di kawasan hutan lindung Taman Hutan Raya Raden Soeryo pada tanggal 20 Juli 2002 sampai dengan tanggal 31 Agustus 2002. Untuk memperoleh data keanekaragaman jenis burung digunakan metode penjelajahan dikombinasikan dengan metode kurva keanekaragaman jenis dari MacKinnon (1998).

Terdapat 50 jenis termasuk dalam 22 suku burung diketemukan di hutan lindung Taman Hutan Raya Raden Soeryo. Jenis burung yang banyak diketemukan adalah tipe burung pemakan serangga seperti burung Sikatan dan Mungguk Loreng. Diketemukan lima jenis burung yang merupakan endemik Jawa dan 14 jenis dilindungi oleh Peraturan Pemerintah no 7 tahun 1999.

Jenis tumbuhan yang ada merupakan campuran (heterogen) kecuali di Gunung Anjasmoro dan Gunung Biru. Jenis pohon yang banyak terdapat adalah Pasang (Quercus sundaica Bl.), Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana Miq.), Sembung (Vernonia arborea Ham.), Tutup (Macaranga tanarius Muell.Arg.), Nangkan (Horsfieldia glabra Warr.), Anggrung (Trema orientale Bl.), Jambulir (Eugenia densiflora Duthie.) dan Jaranan (Crataeva nurvala Ham.). Interaksi antara burung dengan vegetasi yang ada adalah penyedia sumber makanan baik itu berupa buah maupun biji-bijian, tenggeran maupun pohon tempat tidur. Kondisi hutan di daerah hutan lindung sudah mulai mendapat ancaman yang serius, terutama akibat dari konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan industri di sekitar Gunung Anjasmoro, pengambilan hasil hutan berupa kayu, rotan maupun perburuan satwa di daerah Lemah Bang oleh masyarakat sekitar.

(Untuk selengkapnya silahkan download disini)

Penelitian di Tahura R Soeryo, Jawa Timur ini berjalan bersamaan dengan explorasi pertama oleh Pro Fauna dan Pusat Penyelamatan Satwa Petungsewu, Malang yang sedang mencari lokasi untuk pelepasliaran untuk beberapa jenis satwa yang direhabilitasi disana.
Diawali dengan proses pembentukan tim explorasi dan pelatihan bertahap selama beberapa minggu yang dilakukan baik didalam ruangan maupun langsung praktek dilapangan. Pelatihan dalam ruangan mencakup materi-materi tentang penelitian dan data-data apa saja yang nantinya akan diambil dilakukan di PPS Petungsewu, sedangkan praktek lapangan dilakukan di kawasan Cangar, Batu Malang dengan pendampingan langsung oleh Iwan Kurniawan dan Asep R Purnama dari pps dan mbah Djumadi "Gareng" masyarakat lokal yang paham akan wilayah disekitar tahura. Materi lapangan berupa praktek membaca peta kompas, analisa vegetasi, pengenalan terhadap jenis satwa dan tumbuhan serta survival.



Kawan-kawan yang berada dalam satu tim eksplorasi adalah:
Sri Nugroho "Jawir", Yuni Haryati, Aris Hidayat, Eva Nurma, Henny Lita, Agung Nugroho, Tri Anton Wijanarko, pak Syamsul "Bogang" dan Triyatno.



Saturday, July 18, 2009

KESADARAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI

oleh: moch saifudin

Fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini seperti banjir dan tanah longsor seakan tidak ada habis-habisnya melanda bumi tercinta ini. Kejadian semacam ini cukup menjadi bukti bahwa manusialah yang harus bertanggung jawab.Dampak globalisasi dan modernisasi cukup menjadi bukti nyata akan kerusakan-kerusakan habitat dari berbagai macam species satwa dan tumbuhan. Indonesia sebagai Megabiodiversity hanyalah akan menjadi sebuah cerita atau Lullaby song bagi generasi yang akan datang. Sistem dan politik tercampur aduk oleh kepentingan pihak-pihak pemodal tanpa memperhatikan aspek-aspek lingkungan dan Humanisme sangat jelas terlihat, anehnya kenyataaan seperti ini malah kita diamkan tanpa ada usaha-asaha untuk sebuah perubahan kearah yang lebih baik. Seakan-akan kita dibutakan, dibodohi dan ketakutan untuk bersuara lantang demi sebuah kebenaran. Ini realita, dampak kerusakan habitat seperti fragmentasi hutan untuk pembukaan lahan perkebunan, perladangan, pertambangan, dan lain-lain sangat berdampak pada kepunahan berbagai macam species satwa dan tumbuhan.

Perdagangan satwa liar masih terjadi di Indonesia, hal ini akan menambah daftar panjang kepunahan berbagai species satwa. Ini menjadi permasalahan serius yang harus kita selesaikan. Peduli saja tidak cukup, tanpa adanya upaya-upaya perlindungan dan penyelamatan satwa liar. Hal yang lebih mendasar adalah dimulai dari kesadaran tiap-tiap individu itu sendiri untuk tidak berburu, memelihara, memperdagangkan, mengkonsumsi dan mendukung berbagai macam produk serta kegiatan yang memakai satwa liar sebagai objek seperti sirkus satwa atau animal show. Self control menjadi peran yang sangat penting untuk dilakukan karena sifat dasar manusia yang tidak pernah merasa puas. Alangkah memalukan apabila kita merasa lebih diakui atau dihormati karena kita memelihara satwa liar dengan dalih menyayangi mereka, pada hakekatnya kebebasan adalah hal yang mutlak bagi semua makluk hidup. Status sosial dan respek seseorang tidak diukur dari berapa jumlah satwa yang dimiliki melainkan bagaimana individu tersebut bisa menghargai sebuah kehidupan

Alangkah lebih menyenangkan dan harmonis apabila kita bisa hidup berdampingan dengan makluk hidup yang lain. Setiap species satwa maupun tumbuhan memiliki fungsi agar kehidupan dibumi ini tetap berlangsung secara alami. Tanpa dukungan dari semua pihak untuk bersama-sama menjaga, melestarikan dan melindungan satwa liar dan habitatnya maka keinginan tersebut tidak akan pernah terwujud…SALVEMOS LOS PAJAROS, SALVEMOS LOS ARBOLES, SALVEMOS EL PLANETA !!!.

Tuesday, July 14, 2009

SAAT PESTISIDA DAN KOTORAN AYAM JADI PEMBAWA MALAPETAKA BAGI SANG PEMANGSA

oleh: robithotul huda

(Membuka Catatan lama tahun 2007)
Waktu itu, hari Selasa, tanggal 03 Juli 2007 aku berada di desa Buahan, Kintamani-Bangli untuk menunaikan tugasaku sebagai observer elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) yang akan di lepasliarkan oleh PPS Bali. Kini sedang menjalani proses habituasi dikandang yang telah dibuat dengan ukuran panjang 28 M, lebar 6 M dan tinggi 8 M. dalam kandang tersebut dihuni oleh 2 ekor elang laut yaitu si Bali (betina) dan Charles (jantan).

Seperti biasanya, observasi prilaku dilakukan dari pkl. 07.00-17.00 wita. Setelah selesai observasi aku melangkahkan kaki menuju rumah tinggal sementara yaitu rumah pak Mekel (kepala desa Buahan) tempat aku menumpang (kost). Belum sampai di tempat kost, aku di cegat oleh warga. "Mas…!mas Jawa"! (panggilan orang luar Bali). " Berhenti dulu" katanya. Akupun berhenti. "Ada apa?" tanyaku. "Ada yang menemukan burung besar. Sekarang ditaruh dikandang ayam"!!! katanya.
Kemudian aku segera meluncur ketempat orang yang menampung burung tersebut. Ternyata burung tersebut adalah elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) fase gelap. Namun sayang, elang tersebut sakit. Kepalanya selalu memutar-mutar (teteloan kata masyarakat disini) dan temboloknya juga kosong. Kata Komang (nama anak yang menemukan elang tersebut), elang tersebut di temukan dipinggir jalan saat dia mencari kayu ditepi hutan. Tiba –tiba saja elang tersebut jatuh dari pohon. Awalnya Komang dan temannya takut untuk mengambilnya karena perawakan burung ini yang menurutnya seram yaitu; mempunyai kuku, paruh serta mata yang tajam. Namun karena kasihan melihat elang tersebut tidak mampu terbang akhirnya dia memberanikan diri untuk mengambilnya dan membawanya pulang.

Tanpa menunggu waktu yang lama aku dibantu masyarakat segera memberikan pertolongan pertama yaitu memberikan makanan. Karena si elang tidak mampu makan sendiri terpaksa aku suapi dengan daging yang telah ditumbuk dan diberi sedikit air. Setelah temboloknya terisi, dan kondisinya sudah mulai bagus, dapat berdiri meski agak sempoyongan aku segera melangkah pulang karena hari mulai gelap, matahari sudah tenggelam, berganti indah rembulan yang siap meninabobokkan mahluk-mahluk diurnal dan membawanya terbang ke alam mimpi.

Pagi hari aku melapor kejadian tersebut ke kantor PPS Bali. Yang kemudian memutuskan drh. I Made Winaya datang kelokasi untuk mengecek kondisi elang tersebut. Elang kemudian diambil sampel darah, feses, dan mulutnya. Dugaan sementara (dilihat secara fisik), kemungkinan elang terkena penyakit Grubug (=stilah yang dipakai oleh masyarakat setempat) atau ND (Newcastle Disease) istilah dalam kedokteran hewan. Grubug juga sudah biasa menjangkiti ayam-ayam di desa ini kata masyarakat.

Elang Brontok merupakan salah satu jenis burung yang dilindungi oleh Negara yang tercantum dalam undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah No 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa serta Undang-undang No 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan oleh CITES diketegorikan dalam Appendix II. Dan PPS Bali (Pusat Penyelamatan Satwa Bali) adalah salah satu lembaga yang menampung satwa hasil sitaan maupun penyerahan sukarela oleh masyarakat untuk direhabilitasi dan kemudian dilepasliarkan lagi.
Sebenarnya elang Brontok tersebut bisa saja dievakuasi ke PPS Bali untuk menjalani perawatan, namun dengan pertimbangan untuk mengisolir penyakit yang dibawa oleh satwa tersebut agar tidak menyebar ketempat lain, maka elang tersebut tetap di taruh ditempat/kandang tersendiri disekitar lokasi. Dan jika sudah sehat maka akan segera dilepas kembali ke hutan dekat desa.

Hari ke hari elang mulai membaik dan dapat makan sendiri. Bahkan tikus yang hiduppun dia juga sudah mampu memangsanya. Namun kepalanya masih cengeran (=istilah warga lokal menyebut tetelo).
Tiba saatnya membaca hasil laboratoirum sampel yang telah diambil dari elang tersebut. Hasilnya elang tersebut memang benar positif terkena ND (Newcastle Disease)
Dan nasib tragis akhirnya menimpanya, dia mati didalam kandangnya, sebelum pertolongan lanjut dilakukan. Dan kadavernyapun dibakar agar tidak menularkan ke satwa lain maupun manusia.

Demikianlah nasib sang pemangsa yang terkenal ganas; cakar yang tajam, paruh yang kuat untuk mengoyak daging-daging mangsanya dan mata yang tajam 10 kali lipat penglihatan manusia mampu menerobos rimbun pepohonan dalam mengintai mangsa.
Ini terjadi karena ulah manusia yang telah menyebarkan racun dari pestisida berlebihan, kotoran ayam broiler yang dipakai untuk pupuk pertanian di sekitar kawasan hutan ini. Hampir seluruh desa disekitar kawasan hutan Kintamani dan sekitar danau Batur masyarakatnya menggantungkan hidup dari bertani; bawang merah, cabe besar dan kubis. Sebelum tanaman ini ditanam, petani akan memupuk lahannya dulu dengan kotoran ayam pedaging broiler yang diambil dari desa-desa terdekat. Hal ini menimbulkan bau yang tidak sedap sama sekali dan mengundang lalat dalam jumlah yang tidak sedikit. Namun masyarakat sudah terbiasa dengannya. Kemudian setelah tanam pengguanan pestisida dilakukan dari mulai tanam sampai akan panen.
Inilah kemungkinan penyebab terjangkitinya penyakit pada elang Brontok tersebut. Kotoran ayam yang telah terinfeksi menjangkiti ayam ataupun burung dan ayam maupun burung tersebut dimakan oleh elang Brontok. Dan Brontokpun akhirnya terkena juga.
Terlepas dari semua itu, masyarakat desa yang agraris (mengandalkan pertanian) juga membutuhkan penghasilan untuk kebutuhan hidupnya yaitu dari bertani. Meski cara yang dipakai dipandang oleh mereka masih wajar karena kekurangtahuan tentang cara yang ramah lingkungan ataupun acuh karena ingin mendapatkan penghasilan yang cepat dan banyak. Begitu pula dengan elang Brontok yang mungkin karena kesulitan mendapatkan mangsa dihutan dan akhirnya memangsa ayam kampung milik warga. Keduanya sama-sama ingin mempertahankan hidupnya, ingin melanjutkan generasinya. Maka dari itu perlu saling memberikan timbal balik yang baik antara manusia dengan satwa liar demi keberlangsungan alam yang hanya satu ini.
Namun manusia adalah mahluk yang mampu berpikir, dialah yang dominant. Maka manusialah yang wajib menjaga, melindungi mahluk lainnya salah satunya adalah Elang Brontok. Demi kerlangsungan manusia itu sendiri.




Wednesday, July 8, 2009

Elang Jawa "Spizaetus bartelsi" adakah penyebarannya sampai ke Bali????

oleh: oni purwoko basuki

"Spizaetus bartelsi"Javan Hawk-eagle ato lebih akrabnya elang Jawa adalah burung pemangsa yang keberadaannya hanya diketahui di pulau Jawa (endemik Jawa). Dari banyak literatur yang ada, telah dijelaskan dengan gamblang deskripsi morfologi, perilaku, pakan, daerah penyebaran dan status burung yang menjadi inspirasi lambang republik ini.

Dari barat pulau Jawa seperti di Taman Nasional Gunung Halimun sampai ujung timur Jawa di Meru Betiri, beberapa lokasi masih diindikasikan menjadi habitat dari burung elang berjambul khas ini, walaupun itu sudah semakin jarang diketemukan keberadaannya. Kalau diluar daerah itu belum ada data yang mendukung, referensi mengenai keberadaan elang Jawa dan sebarannya diluar pulau Jawa sampai sekarang saya juga belum pernah menemukannya, walaupun dahulu katanya ada report pertemuan dengan elang Jawa di Taman Nasional Bali Barat, namun informasi tersebut dianggap kurang valid.....

Pertanyaan ini muncul dan jadi fikiran sejak bulan Juli 2005 sampai sekarang dan pertanyaan ini juga muncul berulang kali dari kawan-kawan yang memiliki perhatian yang sama tentang elang Jawa. Pertanyaan ini berawal saat kami dari Pusat Penyelamatan Satwa Bali, KSDA Bali dan beberapa kawan volunteer pada akhir bulan Juni 2005 memperoleh informasi bahwa salah seorang masyarakat dusun Munduk Langki dilereng gunung Lesung yang merupakan cagar alam dalam kelompok Hutan Batukahu (RTK 4) kab Buleleng, Bali menangkap seekor burung elang yang sering memangsa ayam masyarakat disekitar dusun itu. Keberadaan burung elang disekitar lokasi memang umum ditemui terutama untuk jenis pegunungan seperti elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) dan elang Ular Bido (Spilornis cheela) karena memang kondisi hutan didaerah tersebut masih sangat mendukung keberadaan jenis-jenis burung pemangsa.

Namun dari hasil tangkapan burung elang yang satu ini, kok beda dari jenis elang yang kita ketahui ada disekitar lokasi. Pada saat itu, kami yang sedang melaksanakan program pelepasliaran elang Bondol (Haliastur indus) di danau Tamblingan masih belum tahu pasti tentang jenis elang yang satu ini. Walaupun dari literatur yang kami lihat saat itu, mengarah kejenis elang Jawa, namun karena tidak ada referensi sama sekali tentang keberadaan elang ini di Bali kita tidak berani memastikannya. Masyarakat sekitar dusun mengatakan bahwa jenis elang ini memang sudah lama ada disekitar sana. Masyarakat bisa mengenali dari beberapa jenis elang yang berada disana dan memberikan sebutan yang berbeda untuk jenis yang berbeda pula berdasarkan bentuk maupun perilakunya. Misalnya "kekelik"untuk elang Ular Bido, "sikep" elang Brontok, "lang-lang Be" untuk elang Laut Perut Putih yang ada disekitar danau Buyan-Tamblingan dan "bulusan" untuk menyebutkan jenis alap-alap.

Dari pendekatan kepada orang yang menangkap elang tersebut, elang dapat kita bawa dan diobati karena terdapat beberapa luka lecet akibat perlakuan selama penangkapan dan dalam kandang. Janji kami pada saat itu elang akan kami lepas didaerah yang jauh dari lokasi agar tidak kembali memangsa ayam masyarakat. Secara fisik, elang tersebut dalam kondisi bagus dalam artian tidak ada tanda-tanda luka lama, bekas tali maupun hal yang mengindikasikan elang tersebut baru terlepas maupun lama dipelihara oleh orang, luka hanya akibat penanganan oleh penangkap, perilaku sangat liar dan agresif tidak mau dipegang dan cenderung mau terbang menjauh.
Setelah dilakukan cek kesehatan dan fisik, diputuskan untuk dibuatkan kandang sementara sebelum dilepaskan kembali kealam, dengan pertimbangan akan sangat berpengaruh tidak baik bagi si elang kalau terlalu lama dikandangkan dan berinteraksi dengan orang.
Dan inilah yang memang susah diprediksikan, setelah rencana pembuatan kandang selesai dilaksanakan dan tinggal memasukkan elang kekandang sementara.... elang tersebut terlepas karena kandang angkutnya nyangkut pohon.....
da-da elang...............
(dan itu sebelum kita tahu persis jenis elang tersebut)

Kepastian dari jenis elang tersebut baru benar-benar didapatkan ketika kita ketemu ama yang ahli dibidangnya yaitu Kang Zaini Rahman dari YPAL Bandung, yang bisa meyakinkan bahwa elang ini merupakan elang Jawa. Pada saat itu dicoba lagi untuk mengamati sekitar lokasi dan mencari siapa tahu ada sesuatu seperti bekas bulu atau apa yang bisa dijadikan bukti dan dasar penelitian lebih lanjut....namun udah tidak ada,...
Memang pertanyaan diotak sampai saat ini adalah benarkah burung elang Jawa tersebut asli ada dihutan sekitar cagar alam Batukahu tersebut..... dan Bali menjadi daerah yang menjadi habitat elang Jawa, atokah burung elang tersebut merupakan burung terlepas dari peliharaan ato memang sengaja dilepas didaerah hutan cagar alam Batukahu????????????

April 2008, saat saya masih sering kluyuran ke Tamblingan untuk melakukan monitoring paska beberapa pelepasliaran elang disana, saya masih mendapatkan informasi keberadaan elang Jawa tersebut dari beberapa masyarakat, terutama yang sering pergi keluar masuk hutan disekitar gunung Lesung yaitu sekitar goa Nagaloka.....
Hal yang menarik untuk ditindaklanjuti, bagi saya itu juga kaya utang yang masih harus saya carikan jalan, bagaimana cara nglunasinya..... karena tiap ada teman yang nanya lagi masalah itu, saya cman bilang nga tau.....!!! gimana cerita sebenarnya.

Bulan April 2009 ini, saya nambah bingung lagi karena ada satu lagi elang Jawa yang diserahkan masyarakat ke KSDA Bali, dan ini dari wilayah sekitar pantai Kuta,.... info yang saya dapatkan bahwa elang tersebut ditangkap oleh petugas hotel di Kuta (saya tidak memperoleh nama tempatnya) karena kedapatan jatuh setelah nabrak bangunan hotel dan kemudian diserahkan kepetugas KSDA. Aneh kan..... lepasankah? terlepaskah? ato memang tinggal disitu...(he3x..). Itu saya juga cman bisa bilang nga tau.....!!! Skarang elang Jawa hasil penyerahan masyarakat itu masih mampir di Bali Bird Park Gianyar, entah sampai kapan...??? mudah-mudahan bisa bisa cepat mengepakkan sayapnya dialam bebas kembali...

(Dua kunjungan terakhir saya di Tamblingan, akhir bulan Mei 2009 dan kemaren tanggal 1 Juli 2009..... saya masih mencari informasi dari masyarakat tentang keberadaan elang Jawa tersebut, dan beberapa orang masih sempat bertemu terutama didaerah lereng hutan diatas enclave Tamblingan. Dari keterangan yang saya dapat memang warna bulunya sudah berubah menjadi burik 'garis-garis' jelas dibadannya, sudah tidak coklat kayu manis lagi, namun jambul khasnya yang tidak terlupakan itu menjadi penanda jelas bagi elang ini..... apalagi memang hanya satu individu ini saja yang sering terlihat oleh mereka........ adakah individu elang Jawa lainnya disini...???????????)












Monday, July 6, 2009

“Merambah” Kawasan Hutan di sekitar danau Batur, Kintamani – Bangli

oleh: robithotul huda

Bulan Juni 2007 PPS Bali mengada
kan program realease dua ekor elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) di kecamatan Kintamani, tepatnya di desa Buahan. Desa Buahan berada di bibir sebelah selatan danau Batur dan merupakan salah satu desa dari 7 desa yang terletak di sekitar danau Batur. Ke enam desa lainnya adalah desa Kedisan, desa Songan A, desa Songan B, desa Abang, desa Abang Batudinding dan desa Trunyan. Desa-desa disekitar danau Batur, dikelilingi oleh perbukitan yang berderet membentuk lingkaran kawah dengan puncak tertinggi gunung Abang dan gunung Batur. Menurut para ilmuwan, danau Batur dulunya kemungkinan adalah kawah (caldera) yang kemudian tidak aktif lagi.

Realease atau pelepasliaran s
atwa di desa Buahan merupakan yang kesekian kali dilakukan oleh PPS Bali yang bekerjasama dengan BKSDA, koran Bali Post dan desa Buahan. Sebelumnya PPS Bali telah melakuakn pelepasliaran di danau Buyan – Tamblingan, Buleleng dan gunung Batukaru di Tabanan. Sebelum pelepasliaran dilakukan, perlu dilakukan survey habitat dan potensi pakan yang ada untuk memastikan bahwa setelah dilepasliarkan, satwa yang dilepas akan mampu bertahan hidup di habitat barunya.

Survey dilakukan bersama dengan masyarakat lokal desa Buahan. Hal ini dilakukan karena masyarakat lokal telah menguasai medan serta mengenal nama-nama lokal baik tumbuhan maupun binatang yang berada disekitar kawasan
Taman Wisata Alam (TWA) Penelokan yang akan dijadikan lokasi pelepasliaran dan akan menjadi habitat baru satwa yang akan dilepasliarkan. Dengan demikian data akan lebih mudah didapat meskipun masih menggunakan nama lokal. Metode yang digunakan dalam survey adalah rappid assessment (penilain cepat). Sedangkan lokasi yang disurvey meliputi kawasan taman wisata alam Penelokan sampai ke hutan lindung gunung Abang serta yang tak kalah pentingnya adalah pakan (ikan) yang ada di danau Batur.

Dari hasil survey diketahui jenis tumbuhan yang dominan dikawasan Taman wisata alam Penelokan antara lain adalah jenis Ampupu Eucalyptus urophylla (dominan disekitar jalan “hasil reboisasi setelah terkena dampak letusan gunung Agung”), Sapen Engelherdia spicata, Cemara Gunung Casuarina junghuhniana, Pinus Pinus merkusii dan Puspa Schima noronhae.

Dari pengamatan, satwa dari jenis burung yang ditemukan (64 jenis) antara lain : Kepudang Kuduk Hitam Oriolus chinensis, Cica Kopi Melayu Pomathorinus montanus, Kirik-kirik Senja Merops leschenaulti, Kowak Malam Kelabu Nycticorax nyctic
orax, Kuntul Kerbau Bulbulcus ibis, Blekok Sawah Ardeola speciosa serta Merbah Cerucuk Pygnonotus goiavier yang sangat banyak sekali karena mudah beradaptasi dengan lingkungan hingga mengakibatkan jenis pemakan biji lainnya kalah bersaing dan tersingkir dari wilayah ini. Burung-burung pemangsa atau raptor juga masih banyak terlihat antara lain : elang Ular Bido Spilornis cheela, elang Hitam Ictinaetus malayensis, elang Brontok Spizaetus cirrhatus, elang Laut Perut Putih Haliaeetus leucogaster, elang Alap Cina Accipiter soloensis, elang Alap Nipon Accipiter gularis dan Alap-alap Sapi Falco moluccensis.

Satwa lain yang ditemukan antara lain adalah Monyet Ekor Panjang Macaca fascicularis (banyak sekali kelompok dan sering menggagu tanaman diladang masyarakat atau dianggap hama oleh masyarakat), Lutung Jawa Trachypithecus auratus, Kucing Hutan Fellis bengalensis, serta Landak Hystrix branchyura.
(data lengkap jenis flora dan fauna Kintamani bisa di download disini)

Dari data yang diperoleh
dapat dismpulkan bahwa ekositem yang ada dikawasn ini masih tergolong normal yaitu dengan adanya produsen serta predator. Akan tetapi perambahan hutan secara langsung (pencurian kayu, perburuan burung dan satwa lain) dan tidak langsung (penanaman Rumput Gajah dan Kaliandra) yang dapat mematikan tanaman asli hutan serta penggunaan pestisida yang berlebihan di ladang sekitar kawasan hutan lambat laun akan mengakibatkan penurunan kualitas ekositem yang ada. Untuk itu perlu adanya kesadaran bersama oleh masyarakat serta kontrol oleh pihak yang berwenang terhadap kawasan TWA (BKSDA ) agar kondisi kawasan tetap terjaga kelestariannya.