Ini masih berkaitan dengan burung-burung air yang berada dikawasan selatan Kabupaten Badung, Bali. Tentang keanekaragaman jenis dan aktivitas dari burung air yang berada di Taman Hutan Raya Ngurah Rai,mencakup beberapa lokasi penelitian yaitu di pulau Serangan, Pelabuhan Benoa, Mangrove Information Centre, Estuary Dam, Kedonganan, dan BTDC Lagoon Nusa Dua. Skripsi dari Andrian Novel Aribianto, S.Si dalam menyelesaikan studi di jurusan Biologi Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana, Bali tahun 2004.
INTISARI
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis, kisaran jumlah populasi dan aktivitas burung air. Lokasi penelitian bertempat di kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai mulai tanggal 16 Maret sampai dengan 22 Juli 2004. Metode yang digunakan untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung air adalah metode jelajah dan untuk mengetahui kisaran jumlah populasi burung air digunakan Metode IPA (Indices Ponctuelles d’ Abundance Counts) (Bibby et al., 1992: Alikodra, 1993). Sedangkan untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan oleh burung air digunakan metode Ad Libitum (Altman, 1974). Dari penelitian ini berhasil diidentifikasi 41 jenis burung air yang termasuk dalam 7 familia. Tujuh belas jenis burung air yang ditemukan merupakan burung air migran sedangkan 22 jenis merupakan burung yang dilindungi di Indonesia. Bahkan jenis burung gajahan timur (Numenius madagascariensis) telah mendapatkan status mendekati terancam punah (Near threatened) dari IUCN (International Union Conservation of Nature and Natural Resources) (Anonim, ?). Aktivitas yang dilakukan oleh burung air selama pengamatan adalah mencari makan (40 %), istirahat (27 %), terbang (18 %) dan bertengger (15 %).
Untuk hasil lengkapnya silahkan diambil disini, bentuk file pdf 19,369 KB saya pecah menjadi 4 bagian kecil (bab I, bab II, bab III, kesimpulan). Terimakasih untuk Andrian Novel atas ijinnya mengupload skripsinya dan berbagi ilmu keteman-teman semua....Thanks bro, moga bermanfaat bagi kita semua
Burung lagi, lagi-lagi burung !,..tak pernah bosan kami menulis tentang burung. Masih banyak hal yang menarik dari burung untuk diamati, diteliti dan disajikan di media-media elektronik maupun cetak yang dikemas menjadi menu istimewa. Tetapi bukan dalam menu burung cincang dan goreng yang disajikan direstoran - restoran mewah. Sebenarnya tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan yang pernah di publish diblog ini yang berjudul : burung-burung yang memanfaatkan lahan “konflik “ di pulau Serangan-Bali karena pengamatannya dilakukan pada saat bersamaan yaitu pada bulan Mei - Juni 2009.
Saat pengamatan hari ke-2, kami mencoba masuk kedalam untuk mendekat dengan objek (burung air) yang berada di rataan lumpur (mudflat) yang terbentuk terpisah-pisah seperti pulau-pulau kecil. Dan kami membuat nama-nama pulau tersebut dari koloni yang menghuninya. Ada pulau gajahan karena yang terdapat dipulau ini hampir semuanya gajahan, ada pulau dara laut, pulau cerek dan trinil. Kali ini kami menelusuri pulau dara laut. Dara laut yang mendominasi pulau ini adalah dara laut biasa (Sterna hirundo).
Menurut MacKinon, J; K. Phillips; B. Van Balen. 1998, dalam buku panduan lapangan Burung-burung di Sumatra, Jawa dan Bali, dara laut dideskripsikan sebagai berikut: Berukuran kecil (35 cm). tengkuk hitam (pada musim dingin), ekor menggarpu kedalam. Dewasa tidak berbiak: sayap atas dan punggung abu-abu, penutup ekor atas, tungging dan ekor putih. Ciri lainnya; didahi putih, mahkota berbintik hitam putih, tengkuk hitam, tubuh bagian bawah putih. Pada masa berbiak topi hitam, dada abu-abu, sewaktu terbang , dewasa tidak berbiak dan remaja: ada garis kehitaman pada sayap depan dan warna kehitaman pada pinggir bulu ekor terluar. Remaja : tubuh bagian atas lebih coklat dan mantel bersisik. Iris coklat, pangkal paruh hitam (musim dingin) dan merah (musim panas), kaki kemerahan (lebih gelap pada musim dingin) Suara: keras “kiir-ar” menurun, dengan penekanan pada nada pertama. Penyebaran gobal : berbiak di Amerika utara, Eropa dan Asia. Pada musim dingin mengembara kedaerah selatan yaitu: Amerika selatan, Afrika, Indonesia dan Australia. Penyebaran lokal dan status : pada musim dingin bermigrasi tidak teratur di Sunda Besar. Kadang – kadang terlihat dalam kelompok yang sangat besar dengan beberapa burung yang masih dalam bulu tidak berbiak musim panas. Kebiasaan : mengunjungi perairan pantai dan kadang-kadang perairan daratan. Beristirahat pada tenggeran tinggi seperti panggungan pemancingan dan batu-batu. Penerbang tangguh, mencari makan dengan cara menjatuhkan diri untuk menyelam kedalam laut.
Burung-burung dara laut tersebut bergerombol banyak sekali, kurang lebih 150 an ekor pada satu kelompok. Ada yang terbang mengitari lokasi dan ada yang tetap berdiam di lumpur yang bercampur pasir seperti mengerami telur. Kami penasaran, akhirnya mendekat lagi, dengan perlahan kami berjalan agar tak mengganggunya, namun tetap saja si dara terganggu dan terbang semua, namun tidak menjauh, hanya berputar-putar diatas kepala kami. Tiba-tiba salah satu anggota team berteriak, “ada sarang “dan disusul anggota lain. Ternyata disini banyak sekali sarang dara laut biasa dan bahkan terdapat telur-telurnya, ada juga anakan yang langsung lari saat kami mendekat. Warna telur dan anak si dara laut ini yang hampir menyerupai pasir pantai (mungkin untuk perlindungan/kamuflase) membuat kami harus hati-hati saat berjalan, agar tidak menginjaknya. Pantas si dara tidak mau meninggalkan lokasi ini dan hanya terbang disekeliling kami sambil bersuara keras seakan mau mengusir kami, ternyata dia sedang berkembang biak. Kami tidak mau berlama-lama di lokasi ini, takut menggangu si dara yang sedang mengerami telur-telurnya dan anaknya. Maka kami segera menjauh dan melihatnya dari kejauhan saja menggunakan monokuler dan binokuler.
Menurut Howes, et.al, 2003 dalam Novel tahun 2004 (Keanekaragaman Jenis Burung Air di Kawasan TAHURA Ngurah Rai- Bali) disebutkan pada pertengahan Mei-akhir Juli merupakan musim berbiak bagi burung air migrasi. Pengamatan hari berikutnya, kami masih tetap mengunjungi pulau dara laut, untuk melihat apakah telur-telur yang kami temukan kemarin sudah menetas. Ternyata telur-telur tersebut ada yang menetas dan ada yang belum menetas (tidak tahu umur telur-telur tesebut). Namun juga telur-telur yang baru (pada sarang-sarang yang lain). Kali ini kami hanya sebentar saja kelokasi, karena kami menjaga agar si dara tidak terganggu oleh kehadiran kami dan kemudian meninggalkan sarang dan telurnya. Kami melihat dari kejauhan saja. Perasaan senang, cerahkan wajah dan pandangan kami. Senang karena kami belum pernah mendapati moment yang seperti ini dan juga senang karena si Dara telah berbiak, beregenerasi dan menjauhkanyya dari kata “punah” untuk menjalankan fungsinya sebagai bagian dari ekosistem.
Namun kami juga sedih ketika melihat banyak jerat/ jebakan untuk menangkap burung-burung air yang dilakukan oleh orang-orang iseng dilokasi ini, meski sudah ada papan yang berisi larangan merusak kawasan ini. Untuk itu diperlukan pangawasan terhadap kawasan ini dengan cara mengontrol para pengunjung (rata-rata pemancing) serta perlu tambahan papan-papan sosialisasi konservasi agar tercipta kawasan yang lestari.
Pulau Serangan merupakan pulau kecil yang dipisahkan oleh selat kecil di Pulau Bali. Namun sejak beberapa tahun lalu pulau ini dihubungkan oleh jembatan antar pulau. Bahkan bukan hanya jembatan saja, namun pulau serangan juga telah di perluas menjadi tiga kali lipat dari aslinya. Yang semula sekitar 112 hektar menjadi 481 hektar.
Secara administratif, pulau berpenduduk sekitar 3.821 jiwa (732 keluarga) ini terletak di Kecamatan Denpasar Selatan, Kotamadya Denpasar, Propinsi Bali. Desa Serangan terdiri dari enam banjar dan satu kampung, yaitu Banjar Ponjok, Kaja, Tengah, Kawan, Peken, Dukuh, dan Kampung Bugismeski berada di Pulau Bali, Pulau serangan tidak hanya di huni oleh pemeluk agama Hindu, namun ada juga yang beragama Islam dan kebanyakan orang Bugis yang telah menetap di Pulau Bali sejak abad ke-17an.
Masyarakat pulau ini hampir 85 % awalnya bekerja sebagai petani dan nelayan. Namun setelah adanya reklamasi sekitar tahun 90-an oleh PT BTID (Bali Turtle Island Developmend), kini masyarakatnya lebih banyak bergantung pada industri pariwisata yang telah merata di Bali.
Pembangunan oleh PT BTID di pulau Serangan sebenarnya menjadi polemik (konflik) di masyarakat. Banyak kalangan yang tidak setuju dengan adanya mega proyek tersebut meskipun PT BTID telah mengantongi ijin AMDAL dari pemerintah, dengan berbagai pertimbangan antaralain; perusakan lingkungan, dampak social budaya dan ekonomi namun ada juga yang menyetujinya hingga akhirnya mega proyek ini berjalan dari tahun 90-an namun terhenti akibat adanya krisis moneter sekitar tahun 1998. meski berbagi upaya telah dilakukan namun proyek ini tetap tidak berjalan dan hingga kini “lahan konflik” ini kosong.
Keanekaraagaman jenis burung yang ditemukan di Pulau Serangan
Kawasan hutan mangrove yang merupakan bagian dari proyek PT BTID yang terbengkelai di Pulau Serangan menjadi nilai tersendiri bagi teman-teman pecinta pengamatan burung di alam. Hal ini dikarenakan lokasi tersebut di huni oleh berbagai jenis burung, baik burung air maupun darat. Disana juga sering diadakan lomba pengamatan burung oleh perguruan tinggi Negri di Bali.
Beberapa kali aku dan kawan-kawan melakukan pengamatan disana. Rasanya tak pernah bosan-bosan untuk kembali lagi. Meskipun panas mentari dan kencangnya angin pantai membuat kering kulit kami. Adapun jenis burung yang ditemukan dan teridentifikasi dari tanggal 25 Mei hingga 7 Juni 2009 (4 kali pengamatan) sebanyak107 jenis, dan paling banyak merupakan keluarga burung air, kurang lebih 66 jenis burung perancah dari suku Charadriidae (Trulek dan Cerek), suku Scolopacidae (Trinil-trinilan) dan suku Ardeidae (Cangak). Catatan data burung ini belum semuanya karena dari beberapa catatan terdahulu kami belum berhasil menemukannya lagi dalam 4 kali pengamatan terakhir ini.....
Catatan hasil pengamatan (daftar jenis) burung di Pulau Serangan secara lengkap adalah:
Ini adalah skripsi saya tahun 2003 kemaren yang data-datanya diambil tahun 2002 di kawasan hutan lindung Tahura R Soeryo, Jawa Timur. Mungkin ini sudah terlalu lama dan datanya mungkin sudah banyak berubah dan tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang ini. Namun bisalah untuk dipakai bahan bacaan, daripada tidak bermanfaat dan hilang begitu saja.
Terima kasih untuk kawan-kawan lain yang mengijinkan kami untuk meng upload hasil skripsi, penelitian maupun coretan-coretan lainnya di blog ini, nanti secara bertahap akan saya upload satu persatu, Thanks bro..................smoga bermanfaat bagi kita semua.
INTISARI
Telah dilakukan penelitian mengenai keanekaragaman jenis burung di kawasan hutan lindung Taman Hutan Raya Raden Soeryo pada tanggal 20Juli 2002 sampai dengan tanggal 31 Agustus 2002. Untuk memperoleh data keanekaragaman jenis burung digunakan metode penjelajahandikombinasikan dengan metode kurva keanekaragaman jenis dari MacKinnon (1998).
Terdapat 50 jenis termasuk dalam 22 suku burung diketemukan di hutan lindung Taman Hutan Raya Raden Soeryo. Jenis burung yang banyak diketemukan adalah tipe burung pemakan serangga seperti burung Sikatan dan Mungguk Loreng. Diketemukanlima jenis burung yang merupakan endemik Jawa dan 14 jenis dilindungi oleh Peraturan Pemerintah no 7 tahun 1999.
Jenis tumbuhan yang ada merupakan campuran (heterogen) kecuali di Gunung Anjasmoro dan Gunung Biru. Jenis pohon yang banyak terdapat adalah Pasang (Quercus sundaica Bl.), Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana Miq.), Sembung (Vernonia arborea Ham.), Tutup (Macaranga tanarius Muell.Arg.), Nangkan (Horsfieldia glabra Warr.), Anggrung (Trema orientale Bl.), Jambulir (Eugenia densiflora Duthie.) dan Jaranan (Crataeva nurvala Ham.). Interaksi antara burung dengan vegetasi yang ada adalah penyedia sumber makanan baik itu berupa buah maupun biji-bijian, tenggeran maupun pohon tempat tidur. Kondisi hutan di daerah hutan lindung sudah mulai mendapat ancaman yang serius, terutama akibat dari konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan industri di sekitar Gunung Anjasmoro, pengambilan hasil hutan berupa kayu, rotan maupun perburuan satwa di daerah Lemah Bang oleh masyarakat sekitar.
Penelitian di Tahura R Soeryo, Jawa Timur ini berjalan bersamaan dengan explorasi pertama oleh Pro Fauna dan Pusat Penyelamatan Satwa Petungsewu, Malang yang sedang mencari lokasi untuk pelepasliaran untuk beberapa jenis satwa yang direhabilitasi disana. Diawali dengan proses pembentukan tim explorasi dan pelatihan bertahap selama beberapa minggu yang dilakukan baik didalam ruangan maupun langsung praktek dilapangan. Pelatihan dalam ruangan mencakup materi-materi tentang penelitian dan data-data apa saja yang nantinya akan diambil dilakukan di PPS Petungsewu, sedangkan praktek lapangan dilakukan di kawasan Cangar, Batu Malang dengan pendampingan langsung oleh Iwan Kurniawan dan Asep R Purnama dari pps dan mbah Djumadi "Gareng" masyarakat lokal yang paham akan wilayah disekitar tahura. Materi lapangan berupa praktek membaca peta kompas, analisa vegetasi, pengenalan terhadap jenis satwa dan tumbuhan serta survival.
Kawan-kawan yang berada dalam satu tim eksplorasi adalah:
Sri Nugroho "Jawir", Yuni Haryati, Aris Hidayat, Eva Nurma, Henny Lita, Agung Nugroho, Tri Anton Wijanarko, pak Syamsul "Bogang" dan Triyatno.
Fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini seperti banjir dan tanah longsor seakan tidak ada habis-habisnya melanda bumi tercinta ini. Kejadian semacam ini cukup menjadi bukti bahwa manusialah yang harus bertanggung jawab.Dampak globalisasi dan modernisasi cukup menjadi bukti nyata akan kerusakan-kerusakan habitat dari berbagai macam species satwa dan tumbuhan. Indonesia sebagai Megabiodiversity hanyalah akan menjadi sebuah cerita atau Lullaby song bagi generasi yang akan datang. Sistem dan politik tercampur aduk oleh kepentingan pihak-pihak pemodal tanpa memperhatikan aspek-aspek lingkungan dan Humanisme sangat jelas terlihat, anehnya kenyataaan seperti ini malah kita diamkan tanpa ada usaha-asaha untuk sebuah perubahan kearah yang lebih baik. Seakan-akan kita dibutakan, dibodohi dan ketakutan untuk bersuara lantang demi sebuah kebenaran. Ini realita, dampak kerusakan habitat seperti fragmentasi hutan untuk pembukaan lahan perkebunan, perladangan, pertambangan, dan lain-lain sangat berdampak pada kepunahan berbagai macam species satwa dan tumbuhan.
Perdagangan satwa liar masih terjadi di Indonesia, hal ini akan menambah daftar panjang kepunahan berbagai species satwa. Ini menjadi permasalahan serius yang harus kita selesaikan. Peduli saja tidak cukup, tanpa adanya upaya-upaya perlindungan dan penyelamatan satwa liar. Hal yang lebih mendasar adalah dimulai dari kesadaran tiap-tiap individu itu sendiri untuk tidak berburu, memelihara, memperdagangkan, mengkonsumsi dan mendukung berbagai macam produk serta kegiatan yang memakai satwa liar sebagai objek seperti sirkus satwa atau animal show. Self control menjadi peran yang sangat penting untuk dilakukan karena sifat dasar manusia yang tidak pernah merasa puas. Alangkah memalukan apabila kita merasa lebih diakui atau dihormati karena kita memelihara satwa liar dengan dalih menyayangi mereka, pada hakekatnya kebebasan adalah hal yang mutlak bagi semua makluk hidup. Status sosial dan respek seseorang tidak diukur dari berapa jumlah satwa yang dimiliki melainkan bagaimana individu tersebut bisa menghargai sebuah kehidupan
Alangkah lebih menyenangkan dan harmonis apabila kita bisa hidup berdampingan dengan makluk hidup yang lain. Setiap species satwa maupun tumbuhan memiliki fungsi agar kehidupan dibumi ini tetap berlangsung secara alami. Tanpa dukungan dari semua pihak untuk bersama-sama menjaga, melestarikan dan melindungan satwa liar dan habitatnya maka keinginan tersebut tidak akan pernah terwujud…SALVEMOS LOS PAJAROS, SALVEMOS LOS ARBOLES, SALVEMOS EL PLANETA !!!.