Showing posts with label pengamatan burung. Show all posts
Showing posts with label pengamatan burung. Show all posts

Wednesday, October 20, 2010

BALI RAPTOR WATCH 2010 part I

oleh: Andry X-san



Gunung Sega terletak di kabupaten Karangasem, Bali. Sekitar 2,5 jam perjalanan dari kota Denpasar. Satu dari deretan pegunungan yang membentang di belahan timur pulau Bali. Lokasi ini berdekatan dengan pura Lempuyang yang merupakan salah satu dari tujuh pura besar di Bali. Shelter pengamatan kami pun boleh dibilang mudah untuk dijangkau kendaraan bermotor. Hanya saja jalannya agak menanjakdan kita harus lihai menaklukkan tikungan-tikungan terjal sepanjang pinggiran bukit. Di atas Gunung ini terdapat Stasiun Relai TVRI. Kalo datang penyakit malas untuk membuka tenda Dome yang telah kami bawa, biasanya kami numpang tidur disana. Yaah kebetulan kami memiliki sahabat karib di Stasiun relai tersebut. Namanya Pak Dono. Sudah bertahun-tahun Pak Dono melakukan pengamatan bersama kami. Malahan kayanya lambat laun Pak Dono makin jago mengidentifikasi raptor migran dibandingkan kami (salut buat Pak Dono).


By the way, dari sekian pengamatan yang kami lakukan (2006 – sekarang) kami selalu menjumpai ribuan ekor Raptor Migran. Bahkan pada bulan September - November 2005 tercatat 91.232 raptor migran yang melintasi daerah ini (Germi dan Dono, 2005), artinya rata-rata 1000 raptor migran ter-record setiap harinya. Maka tidak lah mengherankan jika spot pengamatan Gunung Sega ini disebut-sebut sebagai Bottle Neck-nya Bali bagian timur. Daerah yang selalu menjadi main line raptor migran yang akan keluar dari pulau Bali melintasi selat Lombok dengan tujuan yang kami perkirakan adalah pulau seberang yang selalu terlihat dari Gunung Sega yaitu pulau Lombok. Disamping itu, letak spot pengamatan Gunung Sega (08022’50’’S – 115038’17’’E) boleh dibilang sangat strategis karena dengan ketinggian 765 meter dari permukaan laut serta posisi yang berhadapan dengan Gunung Agung dan dua pegunungan lainnya yaitu Gunung Lempuyang dan Gunung Bagas, menjadikannya sebagai spot yang ideal untuk melakukan pengamatan Raptor Migran. Bahkan jika cuaca dan angin mendukung, kita bisa melihat dengan kasat mata (tanpa bantuan binokuler) raptor migran melintas di hadapan kita (jarak antara birdwatcher dan raptor migran kurang lebih 8-10m).


Menurut analisa kami sejauh ini, diduga Gunung Agung dan derah sekitarnya seperti Bebandem, Tirtagangga serta Abang menjadi Resting area dari raptor migran. Karena selama pengamatan kami sering melihat ratusan raptor migran melakukakan aktivitas soaring di pagi hari di daerah-daerah tersebut dan kemudian flapping, gliding atau kembali soaring tepat di lekukan bukit di depan shelter pengamatan kami. Kemungkinan besar raptor ini memanfaatkan hembusan angin dan thermal (udara panas) yang berhembus dari lekukan-lekukan bukit. Karena dengan adanya energi panas dan hembusan angin tersebut, dapat membantu raptor migran untuk terbang melambung tinggi sebagai tanda start awal untuk melintasi selat Lombok. Kami meng-asumsikan aktivitas yang dilakukan raptor migran ini sebagai upaya efisiensi energi karena dengan terbang di atas ketinggian rata-rata maka akan mempermudah raptor migran untuk melewati bentangan perairan selat Lombok yang memantulkan panas matahari secara langsung, yang hal ini malah akan mempercepat terkurasnya energi Raptor migran untuk melanjutkan perjalanannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pengamatan kami sangat terbantu dengan landscape (bentang alam) Gunung Sega seperti yang tersebut di atas. Sebagai bahan perbandingan, dari 2 hari pengamatan (16-17 Oktober 2010) kami berhasil mencatat 1.128 raptor migran yang melintas. 1.085 Accipiter soloensis (96%), 21 Pernis ptilorhyncus (1,86%), 5 Accipiter gularis (0,44%), 1 Falco peregrinus (0,09%) dan 16 raptor tak teridentifikasi (1,42%) karena terhalang mendung, atau jarak terbang yang sudah terlampau tinggi sehingga kami kesulitan untuk mengidentifikasinya (data terlampir red). Data ini pun belum ditambah dengan jumlah yang telah ter-record oleh teman kami Pak Dono yang lebih dulu melakukan pengamatan sejak 12-15 Oktober 2010, yaitu sebanyak 4.145 raptor migran. Jadi kalo ditotal selama rentang waktu 6 hari pengamatan (12-17 Oktober 2010) jumlah raptor migran yang telah melintasi pulau ini adalah 5.273. Sedangkan alokasi waktu raptor migran yang paling banyak melintas dijumpai antara pkl. 10.00-13.00 Wita (data tersaji dalam diagram batang red). Selain raptor migran, kami juga mencatat setidaknya lima ekor Elang-Ular Bido (Spilornhis cheel) atau masyarakat sekitar menyebutnya “Ke-kelik” yang merupakan elang resident di daerah tersebut. Malahan sering kali Elang Bido ini kami jadikan indicator kemunculan raptor migran yang akan melintasi daerah ini.Kendala yang sering terjadi selama pengamatan adalah cuaca yang tidak menentu. Bahkan di Gunung Sega, suhu siang hari bisa mencapai 370-390 celcius (bagus untuk program pemutihan kulit kawan… karena setelah pengamatan, kulit kita akan mengelupas satu-persatu dan menjadi putih lagi. Heheheheheee…). Yah maklumlah, tahun ini Bali mengalami anomali cuaca yang benar-benar susah diprediksi. Seperti yang terjadi pada hari terakhir kami pengamatan (17 Oktober 2010), kami baru menjumpai raptor pertama yang melintas setelah memasuki rentang waktu antara pkl. 10.00-11.00 Wita karena sebelumnya cuaca berkabut dan hujan. Padahal biasanya dipagi hari raptor migran ini sudah melintasi Gunung Sega. Disamping itu, minimnya peralatan dokumentasi membuat kita sering kewalahan. Jadi mohon dimaklumi kalo hasil jepret-an raptor migrannya cuma terlihat titik-titik hitam atau kemrumpul kaya’ Laron (heheheheheheee….).


Oiya kawan…, disela-sela pengamatan ini kami mendengar berita tidak menyenangkan. Masyarakat sekitar Gunung Lempuyang, Bagas dan Sega digegerkan dengan adanya pengeboran berskala besar di daerah tersebut. Kuat kabar yang berhembus mengatakan daerah ini akan digunakan sebagai daerah penambangan emas dan tembaga (Bali Post, 18 Oktober 2010). Sungguh malang nasib negeri ini. Tidak kah kita mau sebentar saja bercermin dengan ribuan kubik gelontoran air bah, puluhan bangunan porak poranda terhempas badai, lidah api yang menyala-nyala tak kenal ampun membakar apa saja yang dilaluinya. Ini semua tak lain karena ulah kita sendiri. Dan yang mengherankan kenapa selalu saja ada figur Decepticons, Naraku, Bhu, Joker, Two Face, Mr. Pinguin, Green Goblin, Lex Luther, Magneto, Dr. Octopus, Black Veder dan Firaun yang kerap kali membuat kerusakan di bumi ini. Kenapa setiap orang tidak memilih menjadi tokoh pembela kebenaran seperti Batman, Superman, Spiderman, Ironman, Ultraman dan “Men-Men” lainnya sehingga bumi ini damai dan lestari. Atau barang kali memang ini lah panggung kehidupan yang sebenarnya? Huallah hu a’alam….

Singkat kata kegiatan Raptor Migran kali ini benar-benar membawa pencerahan yang jelas bukan di kulit kami melainkan di hati kami. Dan akhirnya semoga apa yang kami lakukan ini bisa bermanfaat untuk bumi dan para Reptorian di seluruh Indonesia.




Sunday, August 22, 2010

SANG "GHOIB" YANG AKHIRNYA MENAMPAKKAN DIRI


Oleh: Andry X-san


Ramadhan ke-11….,

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh barokah. Dan semoga aja barokah itu menular pada pengamatan saya hari ini. Heheheheee…., paling tidak itu lah sepenggal doa yang saya panjatkan saat memulai pengamatan hari ini.

Dan ternyata benar…


Entah mimpi apa saya semalam sehingga saya berhasil mempersempit jarak yang selama ini terlalu lebar untuk saya gapai. Singkat kata sosoknya menurut saya sangat misterius. Saya sendiri sampai lupa ini kali ke berapa mahkluk tersebut terpantau saat pengamatan, namun selama itu pula belum satu foto pun yang layak untuk dijadikan bukti bahwa “Si Ghoib” ini memang benar-benar ada. Saya pun acap kali enggan saat menyebut namanya sebagai mahkluk asli yang ber-KTP dan ber-stempel resident pulau Serangan. Ini lantaran foto-foto yang nyangkut di kamera saya semuanya tidak layak tayang (ini bukan karena fotonya seronok sehingga ga’ lulus Badan Sensor Film lho yaa.., melainkan karena foto2nya buram). Yaaah…, maklum di mana-mana yang namanya KTP-kan musti dilengkapi ama foto…, iya khan?! Kalo ga’ ada fotonya ya ga bisa mbuat KTP alias belum terdaftar menjadi penduduk resmi suatu daerah…, bener tidak?!

Akhirnya setelah puluhan peluh bercucuran dan sesaat sebelum baterai kamera saya lowbet, dia pun menampakkan wujud nyatanya. Dan untuk pertama kalinya, kamera saya berhasil membidik tepat ke arahnya. Puluhan megapixel pun tersita hanya untuk mengabadikan moment-moment manis yang selama ini jarang saya jumpai. Ini lah dia Si Ghoib, Sang Mistery guest kita kali ini: Realy Wili-Tiny,Winny,Bitty, hihihihiiiiii…(^_*)


= Wili-wili Besar (Burhinus giganteus) atau nama kerennya Beach Thick-knee =


Berukuran besar dengan paruh hitam kekar. Pada pangkal paruhnya terdapat warna kuning. Iris kuning dan beralis putih. Tubuh bagian atas coklat abu-abu sedangkan sayapnya terdapat garis putih. Dada berwarna abu-abu dan kaki kuning. Spesies ini tersebar di seluruh Indonesia (MacKinnon dkk., 1992).

Namun ada yang anehnya sepanjang saya menggamati keberadaan spesies ini. Saya selalu menjumpai 1 sampai 2 ekor Wili-wili dan jumlahnya pun tidak bertambah setiap tahunnya. Ya ini-ini aja… Tapi terlepas dari itu semua, saya merasa senang karena kini bertambah lagi koleksi foto-foto saya. Dan yang paling penting sekarang saya bisa membuatkan KTP buat Wili-wili besar agar dia bisa bebas tinggal di habitatnya tanpa harus kejar-kejaran dengan para Pecalang (semacam HANSIP kalo di daerah lain red.) seperti saya gara-gara ga’ pernah punya KTP Bali. Heheheheheheeee…..

Oiya... terus saran buat Bang MacKinnon, di halaman gambar udah bisa ditambah tuh kode penyebaran Wili-wili Besar menjadi SKJ(B). Matur Suksma...



















SAHABATKU..., DUTA BESAR VICTORIA

Oleh: Andry X-san


Tepat tanggal 8 Agustus 2010, Kedidi leher merah (Cilidris ruficollis) teramati di Pulau Serangan.

Eeeiiiittss…., tunggu dulu, pada mulanya saya berfikir ini hanya lah kedidi leher merah biasa yang sama dengan jenis kedidi pada pengamatan sebelumnya. Maklum.., di Pulau Serangan ini Kedidi leher merah memang sangat mudah kita jumpai. Tapi setelah beberapa kali membidiknya lewat binokuler, saya menjadi sangat tertarik. Pelan-pelan saya ambil kamera, sambil setengah ngesot saya maju lalu.. jprat..jpret…, maju sambil ngesot lagi..., jprat..jpret!!! hehehehee…, maklum kamera saya cuma sebatas kamera semipro yang hanya punya 24 kali optical zoom so…, musti harus lebih berkerja ektra keras untuk mendapatkan gambar yang bagus. Dan akhirnya setelah hampir 300 meter dari tempat saya start ngesot tadi, saya berhenti. Sambil setengah terengah-engah…, saya mulai mengidentifikasi foto-foto yang telah saya dapatkan. Ternyata benar dugaan saya, kali ini Kedidi-nya laen dari pada yang laen (alias special).


…………. Ada yang beda di kakinya …………


Lebih tepatnya di bagian tarsus atas, kaki sebelah kanan melingkar satu bendera berwarna Orange. Menurut daftar acuan lokasi penggunaan warna bendera untuk Jalur Terbang Asia Timur–Australasia dalam buku Panduan Burung Pantai-nya Howes dkk., burung pemilik bendera orange ini berasal dari Victoria, salah satu Negara bagian di benua Australia.

“Wow….!!! Ga’ nyangka, hari ini saya telah berjumpa dengan “Duta Besar” sahabat kita dari Negara Australia

Ini benar-benar pengalaman pertama se-umur hidup saya menjumpai burung pantai yang ber-flag. Bayangkan saja.., dari puluhan kedidi leher merah yang bercampur dengan koloni cerek jawa (Charadrius alexandrinus), koloni biru laut ekor blorok (Limosa lapponica) dan koloni trinil sp. hanya terdapat satu ekor kedidi leher merah yang kakinya ber-flag. Mahkluk yang berasal dari belahan benua lain (yang tanahnya pun belum sempat saya pijak), mahkluk yang telah menempuh ribuan kilo meter (dan entah puluhan barier apa lagi yang dia lewati hingga sampai di daratan ini), kini bertemu dengan saya di sini. Lewat optic binokuler ini, lewat megapixel foto yang tertangkap kamera saya, saat ini kami saling bertatapan. Sungguh Allah maha Kuasa atas segala yang Dia kehendaki…, kun faya kun..!!!

Dan selanjutnya pasti bisa ditebak…., dari satu skema keterkejutan dan rasa syukur yang tak berperi, saya kini beranjak ke fase selanjutnya: Bertanya. Kenapa kedidi dari Victoria ini bisa sampai nyasar ke Pulau Serangan? Kalo’ pun burung ini burung migran lalu kemana kah teman-temannya yang laen? Apakah ini berkaitan dengan fenomena anomali cuaca yang terjadi di Australia? Coz by de way…, gara-gara anomali cuaca tersebut, sepanjang tahun 2010 Australia telah diterjang rentetan badai yang sepertinya tak kunjung reda. Mulai dari badai Monsun Australi (Jan’10), badai Zheng Jie (Akhir Jan-Feb’10), badai Ului (Maret’10) dan yang terakhir adalah badai Agatha (pertengahan Maret-April’10). Apakah faktor tersebut ikut memicu terjadinya pergeseran waktu migrasi burung-burung pantai?

Huuuff…, entah lah kawan…., rasanya tak mampu akal ini menerjemahkan semua takdir dan kehendak Illahi yang saya temui hari ini. Memasrahkan sepenuhnya kepada kearifanNya, mungkin adalah jalan yang terbaik. Karena sesungguhya, dalam kosmologi hidup ini ada yang namanya gelombang, vibrasi, getaran, atau resonansi kalam Illahi yang disana bersemayam tanda-tanda kebesaranNya.

Hu Allah hu a’lam, hanya Allah-lah yang mengetahui pasti apa yang sebenarnya terjadi.


…………. And last but not least …………

Ijinkan saya mencamtumkan sebait tanda terima kasih saya untuk Zat yang kekal, yang memiliki kuasa Mutlak atas saya karena tanpa ijin Kasyiful hijab -Nya, hari ini rasanya saya tidak akan mungkin berjumpa dengan “Sahabat dari Victoria” ini.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berulang kali ku kunjungi tempat ini, namun bersamanya pula menjadi berubah cara berjalanku serta menjelma baru mata-pandangku.

Kuajukan kepada-Mu ribuan pertanyaan seperti Ibrahim menggalah jutaan bintang. (betapa bodohnya hamba ini)

Ilahi robbi…, akulah yang fakir dalam kekayaanku, bagaimana mungkin aku tidak menjadi fakir dalam kefakiranku.

Ya Rahman, Ya Rahim…, akulah yang bodoh dalam ilmuku, bagaimana mungkin aku tidak menjadi orang yang bodoh dalam kebodohanku.

Ya Malik, Ya Quddus, Ya Salam…, akulah yang kecil, yang engkau didik. akulah yang bodoh, yang engkau ajari.

Ya 'Azis, Ya Jabbar, Ya Mutakabbir…, bahkan berjuta samudera ilmu-Mu hanya mampu aku ambil setetes, itu pun belum cukup jernih aku menatapi dan menghirupnya.

Dan kini dengan ijin-Mu perkenankan hamba meminjam secuil rahasia tanda–tanda kebesaran-Mu.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------




"Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu." (Q.S. Al-Mulk: 19).






Tuesday, August 17, 2010

Barang kali hanya ini yang kita rindukan….,

0leh: Andry Khusnul Ichsan
Pagi itu 3 Juli 2010, sinar mentari menembus kisi-kisi jendela kamarku….,

Dengan mata mengerjap setengah sadar, ku pandangi jam tanganku dan…., wuuiiikk ternyata udah pukul 7 kurang 15 menit. Pada hal tubuh ini masih serasa melayang-layang, kayaknya rohku masih belum sepenuhnya masuk ke dalam raga ini. Biasalah Early Morning Syndrom. Hari ini rencananya mau birdwatching bareng temen-temen seperjuangan. Segera ku bergegas packing. Seperti biasa, ku tenteng pusaka turun-temurun Si Jadul Olympus kaliber 8x42 dan tentunya tak ketinggalan senjata ampuh kesayanganku Nikon P90, kamera SemiPro ber-moncong panjang dilengkapi 12,1 Megapixels dan 24x Optical Zoom, hmmm.…, rasanya aman jika mereka berada di sisiku. Karena selama ini mereka berdua lah yang selalu setia menemaniku kapan dan dimana saja aku melakukan birdwatching.

Tak selang lama, setelah semuanya beres, saya pun langsung berangkat, tentu saja tanpa ritual bilas badanlaaah… Karena konon katanya, burung akan sangat peka dengan bau wangi sabun mandi atau parfum yang menempel di tubuh kita. Jadi biarlah bau badan ini menyatu dengan alam. Karena filosofinya: di sanalah kelak kita akan kembali, benar bukan?! Dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Pengamatan kali ini difokuskan di Pulau Serangan. Daerah selatan Bali yang merupakan hasil dari reklamasi pantai. Hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit dari pusat kota untuk mencapai pulau tersebut. Memang tidak tersedia sarana transportasi umum untuk mencapai tempat ini. Semuanya harus ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi baik motor atau pun mobil. Tapi jangan khawatir kawan, akses masuk ke daerah ini sangat mudah koq, paling-paling kita hanya membayar retribusi sebesar seribu rupiah untuk bisa memasuki daerah Serangan.

Bagi kami Serangan adalah suarganya burung air. Jika kawan-kawan ingin mengamati burung air di Bali, saya sarankan inilah tempat yang cocok. Dijamin 100% anda akan berada pada titik klimaks kepuasan tiada tara (huahahahaha.....mrgreen).

Sesampainya ditempat kita janjian, ehh…, ternyata malah saya yang duluan nyampek. Terus yang laen mana??? Mungkin masih molor gara-gara begadang nonton pertandingan WorldCup Brazil VS Belanda dini hari tadi. Skor akhir 2-1 untuk Belanda. Kali ini Tim Orange sedang berkibar. Gol Snijder mebuat tim Samba bungkam seribu bahasa. Yaahh.., selamat bertemu dengan Spanyol di Final. Singkat cerita akhirnya ku putuskan untuk meneruskan perjalananku menembus belantara Serangan, kali ini lebih dalam lagi….

Ku parkir sepeda motorku, setapak demi setapak, pelan-pelan ku jejakkan kaki di tanah lembek bekas guyuran hujan tadi malam. Tak selang lama, saya pun disambut dengan lengkingan suara Dara Laut kecil (Sterna albifrons) yang terbang seolah memamerkan tarian selamat datang (kayak pejabat aja pake disambut dengan tarian selamat datang. jadi ga’ enak nich, hehehehe…). Perlahan ku lanyangkan pandangku di hamparan padang yang luas ini. Ku lihat di sana berjajar rapi mulai dari Gagang bayam Timur (Himantopus leucocephalus), Itik Benjut (Anas gibberifrons), Kuntul Kecil (Egretta garzetta), Kuntul Perak (Egretta intermedia), Blekok Sawah (Ardeola speciosa) dan masih banyak lagi yang laennya. Mereka membentuk koloni-koloni kecil. Spontan saja…, perasaan takjup mengalir deras bersama butiran hemoglobin dalam darahku. Bersirkulasi, silih berganti, saling berpacu berdesakkan masuk ke serambi dan bilik jantung ini. Sampai-sampai pembuluh vena dan arteriku sesak oleh keberadaan mereka. Satu helaan napas panjang saya hembuskan bersama ucap syukur yang tak terkira. Mereka masih aman saat ini…., pikirku. Karena kalo mengingat isu santer tentang rencana pembangunan Hotel Apung ditempat ini, hati saya serasa ngilu…. Rasanya ga habis pikir, kemana mata dan otak para developer goblok itu sampai tidak tahu hal sepele seperti ini. ‘Mbangun sana-‘mbangun sini, ga’ ada habisnya. Ga’ tau apa kalo tempat ini surganya para burung?! Atau jangan-jangan, dulu saat pembagian otak di khayangan mereka pada absen yaa?? Kasihan benerrrr….

Tiba-tiba kuterbangun dari liar alam khayalku, ku dengar bunyi sepeda motor berhenti. Ternyata A’Deni baru datang, lalu disusul ama mas Udhyn sekeluarga, mas Huda sekeluarga dan terakhir mas Fatur sekeluarga. Hahaaa…., sekarang lengkap sudah personilnya. It’s the great time to Birdwatching bro!!!

Pasang mata elang, pelan-mengendap, bidik kanan-bidik kiri, waspada pergerakkan dari atas dan di bawah. Walupun banyak duri dan taek sapi, kami tak peduli. Terus mengamati indahnya mereka di habitat liarnya. Terik matahari pun kian menyengat kulit kami. Ribuan peluh merembes dari pori-pori. Saat itu saya lihat matahari berada tepat di atas kepala kami. Dan tak terasa pula lembar demi lembar catatan kami telah terisi penuh. Puluhan daftar burung telah ter-record sudah.

Burung-burung tersebut antara lain seperti :

  1. Gagang bayam Timur (Himantopus leucocephalus)
  2. Itik Benjut (Anas gebberifrons)
  3. Kuntul Kecil (Egretta garzetta)
  4. Kuntul Perak (Egretta intermedia)
  5. Blekok Sawah (Ardeola speciosa)
  6. Pecuk Padi Belang (Phalacrocorax melanoleucos)
  7. Cikalang Christmas (Fregata andrewsi)
  8. Gemak Loreng (Turnix susciator)
  9. Kareo Padi (Amaurornis phoenicurus)
  10. Cerek Tilil (Charadrius alexandrines)
  11. Gajahan Pengala (Numenius phaeopus)
  12. Trinil Pembalik Batu (Arenaria interpres)
  13. Kedidi Leher Merah (Calidris ruficollis)
  14. Kedidi Putih (Calidris alba)
  15. Dara Laut Sayap Putih (Chlidonias leucopterus)
  16. Dara Laut Kecil (Sterna albifrons)
  17. Punai Gading (Treron vernans)
  18. Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis)
  19. Perkutut Loreng (Geopelia maugei)
  20. Raja Udang Biru (Alcedo coerulescens)
  21. Cekakak Sungai (Todirhampus chloris)
  22. Kirik-kirik Laut (Merops philippinus)
  23. Layang-layang Rumah (Delichon dasypus)
  24. Merbah Cerucuk (Pycnonotus goiavier)
  25. Cucak Kutilang (Pynonotus aurigaster)
  26. Srigunting Kelabu (Dicrurus macrocercus)
  27. Remetuk Laut (Gerygone sulphurea)
  28. Cinenen Jawa (Orthotomus sepium)
  29. Prenjak Jawa (Prinia familiaris)
  30. Kipasan Belang (Riphidura javanica)
  31. Bentet Loreng (Lonius tigrinus)
  32. Kerak Kerbau (Achridotheres tristis)
  33. Burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis)
  34. Bondol Peking (Lonchura punctulata)
  35. Bondol Haji (Lonchura maja)
  36. Gajahan Timur (Numenius madagascarensis)
  37. Wili-wili Besar (Burhinus giganteus)

Dari sekian species yang teramati, saya sangat terkesan dengan keberadaan Perkutut Loreng (Geopelia maugei). Species ini menarik untuk dibahas karena sebenarnya burung ini hanya terdapat di wilayah Wallacea alias tersebar di daerah Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Tapi entah mengapa burung ini bisa nyasar ke pulau Serangan yang notabene bukan merupakan bagian dari wilayah Wallacea. Saat pengamatan kemarin kita menemukan kurang lebih empat ekor Perkutut loreng yang berada di sekitaran Pura. Beberapa analisa pun bermunculan dari kepala saya tentang keberadaan Perkutut Loreng di Pulau Serangan. Kemungkinan besar burung ini merupakan burung lepasan dari peliharaan masyarakat sekitar. Atau barang kali burung ini berhasil bermigrasi melewati beberapa pulau hingga sampai ke tempat ini dan akhirnya mereka berkembang biak di sini. Tapi kemungkinan ke 2 rasanya sangat kecil terjadi karena Perkutut bukan merupakan jenis burung migran. Yaaahhh jika memang analisa kita meleset berarti hanya satu kalimat yang bias menjawab semua pernyataan itu: “hu Allahhu a’lam”…., hanya Allah-lah yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Hehehehe….

Mendung mulai bergalayut di langit Bali membawa semilir angin yang menghembuskan kesegaran setelah terik mentari memanggang kulit kami. Sebelum kami beranjak pulang, ku hirup dalam-dalam udara itu sekali lagi. Karena barang kali hanya ini yang kita rindukan…, melihat kalian hidup bebas di bumi ini.

Sampai jumpa lagi kawan….


the next generation.......

Monday, September 7, 2009

Musim berbiak bagi burung Dara Laut Biasa Sterna hirundo Common Tern

oleh: robithotul huda

Burung lagi, lagi-lagi burung !,..tak pernah bosan kami menulis tentang burung. Masih banyak hal yang menarik dari burung untuk diamati, diteliti dan disajikan di media-media elektronik maupun cetak yang dikemas menjadi menu istimewa. Tetapi bukan dalam menu burung cincang dan goreng yang disajikan direstoran - restoran mewah.
Sebenarnya tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan yang pernah di publish diblog ini yang berjudul : burung-burung yang memanfaatkan lahan “konflik “ di pulau Serangan-Bali karena pengamatannya dilakukan pada saat bersamaan yaitu pada bulan Mei - Juni 2009.

Saat pengamatan hari ke-2, kami mencoba masuk kedalam untuk mendekat dengan objek (burung air) yang berada di rataan lumpur (mudflat) yang terbentuk terpisah-pisah seperti pulau-pulau kecil. Dan kami membuat nama-nama pulau tersebut dari koloni yang menghuninya. Ada pulau gajahan karena yang terdapat dipulau ini hampir semuanya gajahan, ada pulau dara laut, pulau cerek dan trinil. Kali ini kami menelusuri pulau dara laut. Dara laut yang mendominasi pulau ini adalah dara laut biasa (Sterna hirundo).

Menurut MacKinon, J; K. Phillips; B. Van Balen. 1998, dalam buku panduan lapangan Burung-burung di Sumatra, Jawa dan Bali, dara laut dideskripsikan sebagai berikut:
Berukuran kecil (35 cm). tengkuk hitam (pada musim dingin), ekor menggarpu kedalam. Dewasa tidak berbiak: sayap atas dan punggung abu-abu, penutup ekor atas, tungging dan ekor putih. Ciri lainnya; didahi putih, mahkota berbintik hitam putih, tengkuk hitam, tubuh bagian bawah putih. Pada masa berbiak topi hitam, dada abu-abu, sewaktu terbang , dewasa tidak berbiak dan remaja: ada garis kehitaman pada sayap depan dan warna kehitaman pada pinggir bulu ekor terluar. Remaja : tubuh bagian atas lebih coklat dan mantel bersisik.
Iris coklat, pangkal paruh hitam (musim dingin) dan merah (musim panas), kaki kemerahan (lebih gelap pada musim dingin)
Suara: keras “kiir-ar” menurun, dengan penekanan pada nada pertama.
Penyebaran gobal : berbiak di Amerika utara, Eropa dan Asia. Pada musim dingin mengembara kedaerah selatan yaitu: Amerika selatan, Afrika, Indonesia dan Australia.
Penyebaran lokal dan status : pada musim dingin bermigrasi tidak teratur di Sunda Besar. Kadang – kadang terlihat dalam kelompok yang sangat besar dengan beberapa burung yang masih dalam bulu tidak berbiak musim panas.
Kebiasaan : mengunjungi perairan pantai dan kadang-kadang perairan daratan. Beristirahat pada tenggeran tinggi seperti panggungan pemancingan dan batu-batu. Penerbang tangguh, mencari makan dengan cara menjatuhkan diri untuk menyelam kedalam laut.

Burung-burung dara laut tersebut bergerombol banyak sekali, kurang lebih 150 an ekor pada satu kelompok. Ada yang terbang mengitari lokasi dan ada yang tetap berdiam di lumpur yang bercampur pasir seperti mengerami telur. Kami penasaran, akhirnya mendekat lagi, dengan perlahan kami berjalan agar tak mengganggunya, namun tetap saja si dara terganggu dan terbang semua, namun tidak menjauh, hanya berputar-putar diatas kepala kami. Tiba-tiba salah satu anggota team berteriak, “ada sarang “dan disusul anggota lain. Ternyata disini banyak sekali sarang dara laut biasa dan bahkan terdapat telur-telurnya, ada juga anakan yang langsung lari saat kami mendekat. Warna telur dan anak si dara laut ini yang hampir menyerupai pasir pantai (mungkin untuk perlindungan/kamuflase) membuat kami harus hati-hati saat berjalan, agar tidak menginjaknya. Pantas si dara tidak mau meninggalkan lokasi ini dan hanya terbang disekeliling kami sambil bersuara keras seakan mau mengusir kami, ternyata dia sedang berkembang biak.
Kami tidak mau berlama-lama di lokasi ini, takut menggangu si dara yang sedang mengerami telur-telurnya dan anaknya. Maka kami segera menjauh dan melihatnya dari kejauhan saja menggunakan monokuler dan binokuler.

Menurut Howes, et.al, 2003 dalam Novel tahun 2004 (Keanekaragaman Jenis Burung Air di Kawasan TAHURA Ngurah Rai- Bali) disebutkan pada pertengahan Mei-akhir Juli merupakan musim berbiak bagi burung air migrasi.
Pengamatan hari berikutnya, kami masih tetap mengunjungi pulau dara laut, untuk melihat apakah telur-telur yang kami temukan kemarin sudah menetas. Ternyata telur-telur tersebut ada yang menetas dan ada yang belum menetas (tidak tahu umur telur-telur tesebut). Namun juga telur-telur yang baru (pada sarang-sarang yang lain). Kali ini kami hanya sebentar saja kelokasi, karena kami menjaga agar si dara tidak terganggu oleh kehadiran kami dan kemudian meninggalkan sarang dan telurnya. Kami melihat dari kejauhan saja.
Perasaan senang, cerahkan wajah dan pandangan kami. Senang karena kami belum pernah mendapati moment yang seperti ini dan juga senang karena si Dara telah berbiak, beregenerasi dan menjauhkanyya dari kata “punah” untuk menjalankan fungsinya sebagai bagian dari ekosistem.

Namun kami juga sedih ketika melihat banyak jerat/ jebakan untuk menangkap burung-burung air yang dilakukan oleh orang-orang iseng dilokasi ini, meski sudah ada papan yang berisi larangan merusak kawasan ini. Untuk itu diperlukan pangawasan terhadap kawasan ini dengan cara mengontrol para pengunjung (rata-rata pemancing) serta perlu tambahan papan-papan sosialisasi konservasi agar tercipta kawasan yang lestari.








Thursday, August 20, 2009

Galeri Foto: Pengamatan burung di Pulau Serangan, Bali

oleh: oni purwoko basuki


Ini beberapa gambar dari pengamatan burung di pulau Serangan, Bali bulan Mei 2009...
hasil jepretan dari mas Gembel, yang juga seorang tukang foto dan mbaurekso di Gembel's Journey (http://stillphotographer.blogspot.com/), suwun mas....
Untuk jumlah total jenis burung yang tercatat selama pengamatan, silahkan lihat di "Burung-burung yang memanfaatkan lahan konflik di Pulau Serangan, Bali"